Tentang Kelapa Sawit dan Hamanya

  • by

Kelapa sawit ( Elaeis guineensis )merupakan komoditas palem yang berasal dari afrika. Keberadaan kelapa sawit di Indonesia dimulai dengan dibawanya bibit kelapa sawit dari afrika dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848. Sawit yang tumbuh di iklim tropis dapat tumbuh dengan sangat baik di Indonesia. Sejak saat itu, kelapa sawit mulai berkembang hingga menjadi komoditas perkebunan.

Kelapa sawit ditumbuhkan sebagai bahan baku penghasil minyak masak, minyak industri, dan bahan bakar. Kelapa sawit memiliki peranan penting di industri minyak dengan menggantikan kelapa sebagai sumber bahan baku. Perkebunan kelapa sawit menghasilkan keuntungan besar dan banyak diminati. Kelapa sawit tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Ada beberapa varietas kelapa sawit: E. guineensis Jacq., E. oleifera, dan E. odora. Di perkebunan lebih dikenal dengan tipe dura, psifera, dan tenera. Dura memiliki ciri cangkang tebal dan endosperm yang banyak. Psifera memiliki ciri tidak bercangkan serta endosperm kecil. Tenera memiliki cangkang tipis dengan endosperm tidak terlalu besar. Adapun tipe lain yang didasari oleh warna buah yaitu: Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Kelapa sawit memiliki struktur akar, batang, daun, bunga, dan buah. Bagian yang dimanfaatkan menjadi minyak adalah buahnya

Kelapa sawit bisa ditemukan di daerah dengan berbagai jenis tipe tanah seperti podzolik, latosol, hidromorfik kelabu, alluvial atau regosol, tanah gambut saprik, dan muara sungai. Jenis tanah akan memengaruhi produktivitas kelapa sawit, dimana kelapa sawit yang tumbuh di daerah podzolik memiliki produktivitas lebih tinggi daripada tanah berpasir maupun gambut. Temperatur optimal untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 24 – 28 oC. Kelapa sawit dapat tumbuh pada ketinggian 1 -500 meter di atas permukaan laut dan kelembaban 80 – 90 %. Kecepatan angin optimal berada di kisaran 5 – 6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan bunga kelapa sawit. Kelapa sawit juga membutuhkan curah hujan tinggi yaitu sekitar 1500 – 4000 mm per tahun. Curah hujan memengaruhi perilaku pembungaan dan produktivitas kelapa sawit. Penyinaran optimal berada dalam rentang 5 – 7 jam dalam satu hari. 

Setiap tanaman tentu akan memiliki musuh alami maupun penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kelapa sawit juga memiliki hama dan penyakit yang dapat menurunkan hasil produksi tanaman. Penyakit yang sering menyerang kelapa sawit adalah penyakit busuk pangkal yang disebabkan oleh infeksi cendawan Ganoderma boninense. Tanaman yang terkena penyakit busuk pangkal menimbulkan gejala seperti daun yang menguning pada satu sisi, adanya bitnik kuning pada daun muda, dan kepucatan daun. Serangan hama meliputi ulat api (Lepidoptera limacodidae), ulat kantung (Lepidoptera psychidae) dan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Hama akan memakan dan merusak daun dan pelepah kelapa sawit sehingga dapat menurunkan produktivitasnya. Untuk hama kumbang tanduk, serangan kumbang tanduk bisa mematikan tanaman kelapa sawit apabila bagian yang terkena serangan adalah titik tumbuh kelapa sawit. Selain itu, kumbang tanduk juga dapat menurunkan produktivitas kelapa sawit yang diinanginya. Khusus untuk hama kumbang tanduk, pengendalian yang disarankan adalah dengan menggunakan feromon.

Feromon merupakan senyawa alami yang dihasilkan kumbang tanduk ketika musim kawin. Feromon dapat dibuat sintesisnya untuk kepentingan pengendalian hama. Penggunaan feromon tidak akan merusak lingkungan maupun mengganggu tanaman sawit. Feromon juga memerlukan biaya yang jauh lebih rendah dibanding pengendalian dengan insektisida. Salah satu feromon yang berkualitas adalah Suteki 90. Suteki 90 dapat mengendalikan populasi kumbang tanduk secara nyata. Pemesanan Suteki 90 dapat dilakukan pada website feromonsawit.com.

Terima kasih telah membaca artikel feromonsawit. Simak terus website feromonsawit.com untuk mendapatkan informasi seputar kelapa sawit dan hama kumbang tanduk. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *