Potensi Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Biofuel

biofuel kelapa sawit

Penggunaan bahan bakar fosil sudah menjadi kebutuhan manusia. Namun, kian hari persediaan bahan bakar fosil pun semakin berkurang. Selain itu, bahan bakar fosil juga berdampak buruk pada lingkungan. Emisi karbon yang berlebihan akan mengakibatkan pencemaran udara bahkan pemanasan global.

Baca Juga: Cara Budidaya Kelapa Sawit

Bahan bakar fosil merupakan sumber daya alami yang memiliki komposisi hidrokarbon ( batubara, minyak bumi, dan gas alam ). Terbentuknya bahan bakar fosil disebabkan oleh pembusukan dari organisme yang mati ratusan juta tahun lalu. Berbagai organisme seperti hewan dan tumbuhan membusuk di tanah dan menjadi minyak bumi, gas, dan batu bara. Bahan bakar fosil merupakan sumber daya yang tidak terbarukan. Artinya, jika terus digunakan, bahan bakar ini akan habis.

Apabila kita perhatikan, dunia telah mengalami peristiwa seperti mencairnya permukaan es akibat meningkatnya suhu udara. Menurut para ilmuwan, penyebab kenaikan suhu secara global adalah konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan. Emisi karbon akan membuat efek rumah kaca di permukaan atmosfir.

Departemen Energi United States mengatakan bahwa penggunaan biofuel menghasilkan karbon dioksida lebih sedikit hingga 48 persen dari bahan bakar fosil. Hal ini lebih bersifat ramah lingkungan dari pada penggunaan bahan bakar fosil.

Berbeda dengan bahan bakar lain, biofuel dapat diproduksi secara terus-menerus. Hal ini disebabkan karena kita dapat terus menanam tanaman untuk menjadi bahan bakar. Ilmuwan juga telah memperlihatkan produktivitas tanaman tinggi dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan biofuel.

 Biofuel dapat diproduksi dari hasil pertanian atau perkebunan. Biofuel dikembangkan untuk nantinya dapat menggantikan peran energi fosil. Biodisel merupakan bahan bakar yang berasal dari biomasa atau material tumbuhan dan hewan. Produksi biofuel berbeda tiap produknya. Misalnya, ethanol dapat diproduksi dengan fermentasi. Produksi biodisel dilakukan dengan menghancurkan lemak pada tumbuhan atau hewan.

Biofuel dapat diproduksi dari hasil pertanian. Indonesia telah mengembangkan biodisel dengan bahan baku kelapa sawit. Kebun sawit dapat menghasilkan biomasa berupa tandan kosong, cangkang, serat buah, batang, dan pelepah kelapa sawit. Berdasarkan penelitian, setiap hektar kebun sawit dapat menghasilkan biomasa kurang lebih 16 ton bahan kering tiap tahun. Berarti, dengan luas lahan 14 juta hektare, potensi biomasa bahan kering di Indonesia adalah sebesar 224 juta ton. Produksi ini bernilai tiga kali lebih besar daripada produksi minyak sawit sebagai produk utama kelapa sawit. Selain itu, siklus hidup kelapa sawit juga panjang yaitu sekitar 30 tahun. Kelapa sawit juga memiliki produktivitas tinggi sebagai penghasil bahan baku nabati.

Biomasa dari kebun sawit dapat diolah menjadi produk bioetanol. Setiap ton bahan kering biomasa menghasilkan sekitar 150 liter etanol. Berarti, dengan produksi biomasa kebun sawit di Indonesia yang sebesar 224 juta ton per tahun, dapat dihasilkan sekitar 33.6 juta kilo liter etanol tiap tahun.

biofuel kelapa sawit

Selain itu, kebun sawit di Indonesia juga sangat potensial dengan memanfaatkan POME atau Palm Oil Mill Effluent. Menggunakan tangki digester, POME dapat diolah untuk menghasilkan biogas. Dengan produksi POME sebesar 147 juta ton per tahun, dapat dihasilkan sekitar 4127 juta kubik biogas setiap tahunnya. Menggunakan biogas dapat mengurangi konsumsi gas alam maupun bahan bakar fosil lain. Biogas juga dapat digunakan untuk membangkitkan listrik.

Kebun sawit berarti dapat menghasilkan energi terbarukan berkelanjutan yaitu : biodisel, bioetanol, dan biogas. Energi terbarukan tersebut dapat menjadi pengganti energi fosil yang tak terbarukan. Meskipun begitu, biofuel dari kebun sawit dapat diproduksi secara bersama atau joint product dan tidak saling menggantikan. Selama kebun kelapa sawit masih aktif, produksi biofuel akan terus berkelanjutan.

Oleh karena itu, kelapa sawit sangat potensial dalam produksi bahan bakar terbarukan. Luasnya lahan sawit di Indonesia memungkinkan Indonesia menjadi produsen biofuel terbesar di dunia. Namun, beberapa kontroversi masih menghantui perkebunan kelapa sawit. Isu-isu seputar deforestasi dan perusakan lingkungan terus disebarkan guna menurunkan popularitas kelapa sawit di mata dunia. Perlahan, semoga kelapa sawit di Indonesia dapat menjadi solusi atas bahan bakar fosil yang tidak ramah dan tidak terbarui.

Pada masa mendatang, mungkin sudah tidak ada lagi penggunaan bahan bakar fosil. Peran bahan bakar fosil akan digantikan oleh biofuel yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Beralih ke biofuel dapat menjaga lingkungan dari emisi karbon berlebihan yang dapat menyebabkan kenaikan suhu global. Efisiensi biofuel juga akan meningkat sehingga tidak terjadi perselisihan di bidang pangan dan energi. Karena, menggunakan tanaman dan hewan sebagai bahan baku biofuel juga harus diatur agar kebutuhan manusia akan pangan tetap dapat terpenuhi.

Terima kasih telah membaca artikel Feromonsawit. Simak artikel-artikel kami selanjutnya. Feromonsawit juga menyediakan feromon kumbang tanduk untuk mengendalikan hama kumbang tanduk di lahan. Untuk menjaga produksi, pengendalian hama kumbang tanduk dapat dilakukan dengan Suteki 90.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *